SISTEM REPRODUKSI MANUSIA BAG.2


OVULASI, FERTILISASI, GESTASI
Memahami Proses Ovulasi
Terdapat sekitar 15-20 sel telur matang di dalam ovarium Anda. Telur yang paling matang kemudian akan dikeluarkan dan masuk ke dalam tuba falopii. Tuba falopi itu kemudian akan membawa telur ke rahim. Agar terjadi kehamilan, salah satu sel telur dan sperma harus bertemu di dalam tuba falopi.
Sel telur Anda dapat bertahan setidaknya 24 jam setelah dikeluarkan, sedangkan sperma dapat bertahan di dalam vagina hingga 7 hari.
Kapan Ovulasi Terjadi?
Meski beberapa wanita berpikir bahwa masa ovulasi mereka adalah pada hari ke 14, sebenarnya masa ovulasi pada tiap wanita bisa berbeda-beda tergantung dari siklus menstruasi. Siklus Menstruasi tiap wanita berbeda-beda dan secara normal berkisar antara 25-30 hari dengan rata-rata siklus 28 hari. Hari ke-14 mungkin bisa menjadi hari ketika Anda mengalami ovulasi jika siklus menstruasi Anda adalah 28 hari.
Siklus menstruasi yang dialami ini bisa saja berubah. Perubahan siklus menstruasi terjadi karena berbagai macam hal mulai dari kenaikan atau penurunan berat badan, stres, kualitas tidur yang buruk atau olahraga yang dijalani terlalu berat. 

Ovulasi terjadi sekitar 12 sampai 14 hari sebelum periode menstruasi dimulai. Rata-rata masa subur wanita mulai terjadi pada hari ke 10 sampai ke 17 setelah hari pertama menstruasi, jika siklus menstruasi Anda berlangsung selama 28 hari.

Gb. Ovulasi



Gb.Siklus Mentruasi



Apa itu Kehamilan:



Kehamilan adalah istilah yang biasa digunakan untuk perkembangan janin di dalam rahim perempuan dan merujuk pada masa tumbuh kembang janin dalam kandungan pada manusia. Biasanya, calon ibu mengandung janin tunggal di dalam rahimnya dan melahirkan satu keturunan, tetapi ada kemungkinan pula bahwa seorang calon ibu mengandung dan melahirkan dua atau lebih keturunan. Kondisi ini disebut sebagai kehamilan kembar.
Janin bertumbuh di dalam rahim ibu dan dilahirkan sekitar 38 pekan setelah pembuahan. Perkiraan tanggal kelahiran janin ditentukan dengan menghitung empat puluh pekan setelah periode menstruasi yang terakhir (pada perempuan yang memiliki jarak siklus menstruasi sepanjang empat pekan).
Setelah pembuahan, calon ibu mengandung embrio yang merupakan bentuk awal dari keturunan yang sedang berkembang selama sekitar delapan pekan. Setelah masa tersebut, embrio kemudian disebut “janin” hingga waktu kelahiran.

Gb.Fertilisasi



Untuk memastikan kehamilan, seorang perempuan sangat dianjurkan untuk menemui ahli kandungan atau spesialis dalam bidang obstetrik dan ginekologi. Ahli kandungan dapat mendiagnosis kehamilan dengan tepat melalui tes darah, urin, serta melalui tanda-tanda biologis lainnya.
Ahli kandungan, khususnya ahli yang memiliki spesialisasi dalam bidang kesehatan ibu dan anak atau perinatologi, juga memiliki keahlian untuk melakukan diagnosis dan memberikan saran dan pengobatan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan janinnya selama masa kehamilan.
Biasanya seorang ahli kandungan akan memberi resep berupa vitamin dan menganjurkan beberapa perubahan pola hidup demi menjaga kesehatan ibu dan janin.

Gb. Perkembangan Janin


AMNION

1.     Pengertian Amnion


Amnion merupakan elemen dari kehamilan yang sangat penrtng untuk diketahui. Amnion adalah membran halus, kuat dan tembus cahaya, berasal dari masa sel dalam. Amnion adalah membran janin paling dalam dan berdampingan dengan cairan amnion (Air Ketuban). Air ketuban ini dapat dijadikan acuan dalam menentukan diagnosis kehamilan dan kesejahteraan janin.
Amnion merupakan membran pelindung yang tebal. Saat embrio tumbuh, amnion menyelubungi embrio dan membentuk ruang yang berisi cairan amnion.
2. Struktur Amnion
Struktur Amnion dalam keadaan normal :
1.      Volume pada kehamilan cukup bulan kira-kira 1.000-1.500 cc.
2.      Berwarna putih keruh, berbau amis, dan terasa manis.
3.      Reaksinya agak alkalis sampai netral dengan berat jenis 1,008.
4.      Komposisinya terdiri atas 98% air, sisanya albumin, urea, asam urat, kreatinin sel-sel epitel, rambut lagunsa, ferniks caseosa, dan garam anorganik. Kadar protein 2,6% gram/liter.




Selaput janin (amnion dan korion)





Pada minggu-minggu pertama perkembangan, villi/jonjot meliputi seluruh lingkaran permukaan korion. Dengan berlanjutan kehamilan, maka akan terjadi hal-hal berikut ini.

1.      Villi/Jonjot pada kutub embrional membentuk struktur korion lebat seperti semak-semak ( chorion frondosum sementara).
2.      Denyut pada kutub Abembrional mengalami degenerasi, menjadi tipis dan halus disebut korion leave (chorion leave).
Seluruh jaringan endometrium yang telah mengalami desidua juga mencerminkan perbedaan pada kutub embrional dan abembrional adalah sebagai berikut:
1.      Desidua diatas koroin krondosum menjadi desidua basalis
2.      Desidua yang meliputi embrioblas atau kantong janin diatas kirion leave menjadi desidua kapsularis.
3.      Desidua disisi/ bagain uterus yang ambembrional desidua parietalis
Antara membran korion dan amnion terdapat rongga korion. Dengan berlanjutnya kehamilan rongga ini tertutup akibat persatuan membran amnion dan korion. Selaput janin selanjutnya disebut membran korion-amnion(amniochorionic membrane). Kavum  uteri juga terisi oleh konsepsi sehingga tertutp oleh persatuan korion leave dan disidua parietalis.

3. Jaringan Amnion
Rongga yang diliputi selaput janin disebut rongga amnion. Didalam ruangan ini terdapat cairan amnion(likuor amnii).
Asal cairan amnion diperkirakan terutama disekresi oleh dinding selaput amnion/ plasenta, kemudian setelah sistem urinarius janin terbentuk urin janin yang diproduksi juga dikeluarkan kedalam rongga amnion. Fungsi Jaringan Amnion adalah sebagai berikut:
1.      Proteks : Melindungi janin terhadaqp trauma dari luar
2.      Mobilisasi : memungkinkan ruang gerak bagi janin
3.      Hemeostasis : menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam basa dan (ph) dalam rongga amnion utnuk memberikan suasana lingkungan yang optimal bagi janin.
4.      Mekanik : menjaga keseimbangan tekanan dalam suluruh ruangan intrauterina( terutama dalam persalinan).
5.      Pada persalinan : membersihkan/ melicinkan jalan lahir, dengan cairan yang steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir.

 4. Fungsi Amnion
1.      Saat kehamilan berlangsung
2.      Nutrisi (makanan dan minuman bagi janin)
3.      Memberikan kesempatan berkembangnya janin dengan bebas ke segala arah tanpa saling menekan satu sama lain, tanpa tertekan oleh fetus atau dinding uterus.
4.      Mempertahankan suhu yang tetap bagi janin.
5.      Melindungi fetus dari trauma
6.      Menjaga agar tali pusat tidak  tekanan
7.      Menyeimbangkan tekanan intrauteri dan bekerja sebagai peredam goncangan
8.      Mencegah agar tidak timbul perlekatan antara amnion dan janin.
9.      Saat inpartu/Persalianan
10.  Menyebarkan kekuatan kontraksi (menetralkan tekanan di dalam uterus atau rahim) sehingga serviks dapat membuka
11.  Membersihkan jalan lahir dan melindungi janin dari bahaya infeksi
12.  Sebagai pelicin saat persalinan
5. Kelainan Jumlah Cairan Amnion
1.      Oligohidramnion adalah kekurangan air ketuban (<500 cc). Jumlah cairan amnion abnormal yang jumlahnya sedikit, biasanya dikaitan dengan peningkatan mortalitas perinatal. Wanita dengan kondisi berikut memiliki insedens oligohidramnion yang tingg:
2.      Anomali cogenital (nisal agenesis ginjal, sindrom potter)
3.      Retardasi pertumbuhan intrauterine
4.      Ketuban pecah dini (24 sampai 26 minggu)
5.      Sindrom pascamaturitas
Oligohidramnion yang berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi hipoplasia paru atau deformitas ekstremitas pada janin.
2.      Polihidramnion adalah jumlah cairan amnion yang berlebihan (> 2000 cc). Wanita dengan kondisi berikut memliki insidens polihidramnion yang tinggi:
3.      kehamilan multiple (terutama kembar monozigot),
4.      diabetes gestasional yang tidak terkontrol,
5.      eritroblastosis,
6.      malformasi janin, terutama pada traktus gastro intestinal misalnya fistula TE, atau CNS misal anensefali, meningomielokel
7.      abnormal kromosom

6. Cara Mengenali Amnion :
·         Dengan kertas lakmus
·         Mekroskopis, berbau amis, adanya lanugo dan ferniks caseosa, serta bercampur mekonium
·         Mikroskopis, terdapat lanugo dan rambut
·         Laboratorium, kadar ureum rendah dibandingkan dengan air kemih (urin)

7. Ciri-Ciri Kimiawi Amnion
            Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan kira kira 1000-1500 cc, air ketuban berwarna putih keruh, berbau amis, dan berasa manis. Reaksinya agak alkalis atau netral, dengan berat jenis 1,008. Komposisinya terdiri atas 98% air, sisanya albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel sel epitel, rambut lanugo,verniks kaseosa, dan garam anorganik. Kadar protein kira kira 2,6% per liter, terutama albumin.
Di dalam amnion terdapat lesitin dan sfingomielin yang berfungsi untuk mengetahui apakah paru paru janin sudah matang, sebab peningkatan kadar lesitin merupakan tanda bahwa permukaan paru paru (alveolus) diliputi oleh zat surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru paru untuk berkembang dan bernafas. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau janin letak sungsang, maka warna ketuban keruh kehijauan, karena telah bercampur dengan mekoneum.
Air ketuban berasal dari kencing janin (fetal urine), transudasi dari darah ibu, sekresi dari epitel amnion, dan juga asal campuran (mixed origin).

8. Asal Air Ketuban
            Permulaan cairan amnion adalah berasal dari untrafiltrasi plasma maternal setelah minggu kedua, cairan amnion berasal dari cairan ekstraseluler kulit janin. Atau lebih simplenya cairan amnion tersebut diproduksi oleh sel-sel trofoblas, sel-sel darah sang ibu yang kemudian akan bertambah dengan adanya produksi cairan janin, air seni dari janin itu sendiri.
Pada usia kehamilan minggu ke-12, ginjal janin mulai memproduksi urin jadi janin mulai minum cairan ketuban dan megeluarkannya kembali dalam bentuk air seni. Setelah minggu ke-20, kulit janin tertutup oleh lapisan tanduksehingga cairan amnion terutama berasal dari urin janin.

Apa perbedaan antara amnion dan Korion?
1.      amnion adalah membran dalam yang mengelilingi rongga ketuban sementara korion adalah membran luar yang mengelilingi amnion, disebut yolk sac dan alantois.
2.      Amnion diisi dengan cairan ketuban, yang membantu dalam pertumbuhan dan perkembangan embrio, sementara korion bertindak sebagai pelindung.
3.      amnion terdiri mesoderm dan ektoderm sementara korion terbuat dari trofoblas dan mesoderm.
4.      Korion memiliki struktur seperti jari yang disebut Vili korionik.

ASI ( Air Susu Ibu)
Air susu ibu (disingkat ASI) adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat.
Air susu ibu diproduksi karena pengaruh hormon prolaktin dan oksitosin setelah kelahiran bayi. Air susu ibu pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong dan mengandung banyak immunoglobulin IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit.

Apa itu program keluarga berencana?

Keluarga Berencana atau yang lebih akrab disebut KB adalah program skala nasional untuk menekan angka kelahiran dan mengendalikan pertambahan penduduk di suatu negara. Sebagai contoh, Amerika Serikat punya program KB yang disebut dengan Planned Parenthood.
Program KB juga secara khusus dirancang demi menciptakan kemajuan, kestabilan, dan kesejahteraan ekonomi, sosial, serta spiritual setiap penduduknya. Program KB di Indonesia diatur dalam UU N0 10 tahun 1992, yang dijalankan dan diawasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),
Wujud dari program Keluarga Berencana adalah pemakaian alat kontrasepsi untuk menunda/mencegah kehamilan kehamilan. Berikut alat kontrasepsi yang paling sering digunakan:
·         Kondom
·         Pil KB
·         IUD
·         Suntik
·         KB implan/susuk
·         vasektomi dan tubektomi (KB permanen)

Deretan Penyakit pada Sistem Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi wanita terdiri dari organ luar dan dalam. Organ reproduksi wanita bagian dalam meliputi vagina, rahim, saluran telur (tuba falopi), dan indung telur (ovarium). Sementara organ reproduksi wanita bagian luar terdiri dari vulva, kelenjar Bartholin, dan klitoris.
Beberapa penyakit pada sistem reproduksi wanita yang sering terjadi adalah:
1. Endometriosis
Salah satu penyakit pada sistem reproduksi wanita yang sering kita dengar adalah endometriosis. Penyakit ini terjadi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di tempat lain di dalam tubuh.
Jaringan tersebut dapat tumbuh di ovarium, bagian belakang rahim, usus, atau bahkan di kandung kemih. Jaringan yang salah tempat ini akan menyebabkan nyeri haid yang hebat, perdarahan menstruasi yang deras, nyeri saat berhubungan seksual, serta sulit hamil.
2. Radang panggul
Penyakit kedua yang kerap terjadi pada sistem reproduksi wanita adalah radang panggul. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri penyebab infeksi yang merambat masuk ke dalam panggul melalui vagina atau leher rahim.
Salah satu penyebab radang panggul yang paling umum adalah penyakit menular seksual, seperti klamidia dan gonore. Jika tidak diobati dengan baik, penyakit ini bisa menyebabkan nyeri panggul jangka panjang, tersumbatnya saluran telur, infertilitas, dan kehamilan ektopik.
3. PCOS
PCOS atau sindrom ovarium polikistik adalah kondisi yang memengaruhi kadar hormon wanita. Wanita yang menderita penyakit ini akan menghasilkan hormon seks androgen dalam jumlah yang lebih banyak.
Akibatnya, penderita akan mengalami menstruasi yang tidak teratur, atau bahkan tidak menstruasi sama sekali, serta sulit hamil.
4. Miom
Miom atau fibroid rahim adalah tumor jinak yang tumbuh di rahim. Tumor pada miom terbentuk dari jaringan otot rahim. Penyakit pada sistem reproduksi wanita ini sering menyerang wanita di usia produktif.
Gejalanya dapat berupa perdarahan dari vagina di luar masa haid, nyeri panggul, kram atau nyeri pada perut, nyeri punggung, sering merasa ingin pipis, serta nyeri saat berhubungan seksual.
5. Kanker pada organ reproduksi wanita
Kanker pada organ reproduksi wanita dikenal dengan istilah kanker ginekologi. Beberapa jenis kanker ginekologi adalah kanker rahim, kanker mulut rahimkanker ovarium, dan kanker vagina.

Penyakit pada Sistem Reproduksi Pria

Pria juga memiliki sistem reproduksi yang berada di luar dan di dalam tubuh. Organ reproduksi pria yang terletak di luar tubuh meliputi penis, skrotum (kantong zakar), dan testis.
Sedangkan organ reproduksi pria yang berada di dalam tubuh adalah epididimis, saluran vas deferens, saluran kemih, vesikula seminalis (kantung air mani), kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethral.
Berikut ini adalah beberapa penyakit yang bisa mengintai sistem reproduksi pria:
1. Epididimitis
Penyakit ini terjadi akibat adanya peradangan pada epididimis, yakni saluran di dalam skrotum yang menempel pada testis. Saluran ini berperan untuk mengangkut serta menyimpan sperma yang diproduksi oleh testis.
Epididimitis dapat menyebabkan buah zakar bengkak dan nyeri, air mani mengandung darah, nyeri saat buang air kecil dan ejakulasi, serta gangguan kesuburan.
2. Orchitis
Penyakit ini merupakan salah satu penyakit pada sistem reproduksi pria yang cukup sering terjadi. Orchitis adalah peradangan pada testis, yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Orchitis bisa menyerang salah satu testis maupun keduanya sekaligus.
Sama seperti epididimitis, orchitis juga bisa menyebabkan buah zakar bengkak dan nyeri. Bila tidak ditangani, penyakit ini bisa menyebabkan kemandulan dan penurunan produksi hormon testosteron.
3. Gangguan prostat
Prostat adalah kelenjar pada sistem reproduksi pria yang membungkus saluran kemih atau uretra. Kelenjar ini memproduksi cairan mani yang berfungsi untuk menyuburkan dan melindungi sperma.
Gangguan pada prostat dapat berupa peradangan prostat (prostatitis), pembesaran prostat (BPH), atau kanker prostat.
4. Hipogonadisme
Hipogonadisme pada pria terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan hormon testosteron yang cukup. Pada pria dewasa, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan libido, gangguan produksi sperma dan fungsi organ-organ reproduksi, serta infertilitas.
5. Masalah pada penis
Masalah pada penis tak jarang dikeluhkan oleh para pria. Beberapa penyakit yang bisa menyerang organ reproduksi pria ini adalah disfungsi ereksi, kelainan bentuk penis, misalnya hipospadia atau penis bengkok (penyakit Peyronie), dan kanker penis.
Selain beragam penyakit pada sistem reproduksi yang telah disebutkan di atas, pria dan wanita juga bisa terkena penyakit menular seksual, seperti herpes genital, HIV/AIDS, sifilis, dan gonorea. Penyakit ini ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui hubungan seksual.
Penyakit pada sistem reproduksi, baik pada pria maupun wanita, bisa menyebabkan kemandulan







SHARE ON:

Hello guys, I'm Tien Tran, a freelance web designer and Wordpress nerd. Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque laudantium, totam rem aperiam, eaque ipsa quae.

    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar